Jamal : “I love you ..”
Latika : “It’s too late Jamal, now go!”
***
“Sudah pernah nonton Slumdog Millionaire ? Menurutmu apa yang ingin diceritakan oleh film tersebut ?”
Demikian pertanyaan (challenge) yang diajukan oleh oom @didinu dalam sebuah tret di plurk.com.
Menonton dengan membuat kupasan maknawi, membongkar pesan tersembunyi dari sebuah film ? Wah, bukan hal yang mudah…
***
Kampung miskin ditengah kota makmur (slum) adalah masalah umum yang biasa dihadapi oleh kota-kota besar didunia lainnya. Jangankan Mumbay, saya rasa Jakarta sekalipun tak lepas dari masalah ini. (Atau Surabaya, bila saya boleh meng-extend).
Kisah seperti Slumdog sendiri di Indonesia sangat banyak. Setiap hari ada. Mungkin karena saking biasanya, maka tercecer bergitu saja. Seolah tak banyak yang berkehendak memungut mutiara hikmah didalamnya. Layaknya barang gratisan yang bisa dilewatkan, satu demi satu kisah sejenis yang berasal dari negeri sendiri itu berlalu bersama angin.
Yap, sesuatu yang biasa. Namun mengemas sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa adalah permasalahan lain. Danny Boyle sang director Slumdog telah sukses melakukan hal tersebut dengan cantik.
***
Kemiskinan yang menjajah dan himpitan kehidupan, ibarat sebuah kutukan permanent yang baru terlepas ketika nafas mengantar nyawa berpulang. Tak ada sekolah yang layak, bila ada itupun hanya seadanya.
Tak ada taman bermain, yang ada hanyalah lapangan terbang yang seringkali kosong. Dan ketika permainan digelar disana, dipergoki kemudian dikejar-kejar oleh aparat setempat adalah hal yang biasa.
Menerobos lapangan terbang, berlarian diantara labirin-labirin kumuh Juhu, menyeberangi jembatan-jembatan bersungai sampah, terjatuh dan bahkan resiko tertangkap. Salim dan Jamal bersaudara terus berlari sambil tertawa, dan sesekali menepuk pantat, meledek sang aparat yang mengejar mereka dengan penuh perasaan frustasi.
Ditengah sumpeknya kehidupan sebuah Slum, Jamal dan Salim masih bisa menjalaninya dengan tertawa riang.
Jadi kawan, apakah kebahagiaan itu ?
***
Quiz Host :”On Depictions of God Rama he is famously holding what in his righ hand ?”
Jamal : “(I wish i wake every morning didn’t know the answer. If wasnt for Allah and Rama, I would still have a mother..).. A bow and arrow “
***
Dan kebahagiaan kecil kaum kusam itu berakhir ketika sebuah konflik agama pecah di kampung mereka. Sekelompok penganut Hindu yang ekstrem dan radikal melakukan penyerangan mendadak ke kampung Salim dan Jamal, yang notebene berbeda agama.
Warga kampung sontak semburat dan panik. Banyak korban berjatuhan. Sebagian dibakar hidup-hidup. Bahkan sang Ibunda tercinta, terbunuh oleh sebuah pukulan ke wajah. Mereka berdua pun lintang pukang panik berlarian menyelamatkan diri. Sementara sepasukan aparat yang bersiap tak jauh dari tempat kericuhan tersebut, terlihat acuh tak acuh. Pun ketika Salim kecil menjerit memohon bantuan dengan wajah polosnya.
Kawan, agama seharusnya menyelamatkan manusia dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang tercipta atas nama agama ?
***
Salim : “We still dont know the name of the third bloody musketeers..”
***
Kehilangan rumah, kampung, kerabat dan bahkan sang Ibu tercinta, membuat Salim dan Jamal merasa sendirian didunia. Lalu ditengah derasnya hujan dingin Mumbay yang meremukkan tulang, bergabunglah Latika, seorang gadis kecil dari kampung mereka. Senasib, sepenanggungan serta sependeritaan dengan mereka. Dan tanpa ada keluh kesah lebih lanjut, hidup kembali berjalan..
Kawan, apakah penderitaan harus selalu ditemani dengan keluh kesah dan air mata?
***
Salim : “Run, Jamal !”
***
Hidup penuh warna, sekalipun warna itu buram. Maman, seorang bos kriminal kelas teri membawa Salim, Jamal dan Latika. Seolah bermaksud menolong, Maman malah berniat mengeksploitasi ketiganya. Maman pula yang menemukan bakat kriminal Salim, bakat emas Jamal dan keluwesan Latika.
“Looks like, i have found the dog“, kata Maman kepada Salim. Dibawah didikan Maman: Salim, Jamal, Latika dan banyak anak-anak malang Juhu lainnya, tumbuh dengan masa depan yang jauh dari cerahnya hari esok. Menjadi pecundang atau kriminal penerus sisi kelam Mumbay.
Jamal yang bersuara emas, nyaris kehilangan kedua bola mata akibat ulah Maman.
Untung bagi Jamal, loyalitas Salim kepada Maman tidaklah sebesar cinta Salim kepada Jamal, satu-satunya kerabat sedarah. Bertiga mereka melarikan diri dari cengkeraman kuku iblis Maman.
Malang bagi Latika, pelariannya gagal. Fisiknya yang tak menunjang ditambah lagi pengkhiatan Salim di detik-detik terakhir, membuatnya menyerah pasrah.
Dan sebuah scene memilukan tersaji di depan pemirsa. Siluet tubuh kurus Latika yang ditabrak cahaya lampu menatap nanar kereta pelarian yang membawa Salim dan Jamal menjauh perlahan. Tak lama, cecunguk Maman meringkusnya. Sementara kereta semakin menjauh dan menjauh ..
Kawan, bila kau adalah Salim, simalakama manakah yang akan kau pilih, saudara atau sahabat ?
***
Salim : “Let’s work, I’m Hungry, Jamal”
***
Hidup terlunta-lunta, tanpa orang tua yang membimbing, membuat Salim dan Jamal mati-matian bertahan hidup. Bibit kriminal yang diajarkan oleh Maman, berkembang dengan liarnya. Dan hingga di suatu titik, Salim berubah sepenuhnya menjadi iblis bersayap kelam.
Maman adalah korban pertama Salim. Nyawanya melayang tanpa ampun disambar pelor Salim. Berikutnya adalah Latika yang dirampas kemerdekaannya, dan bahkan Jamal sang adik pun diusirnya pergi…
Woops,.. maaf saya tak hendak membuat posting ini menjadi semacam spoiler. Saya loncat saja ya .. 
***
Jamal : “Why does everyone love this program?”
Latika : “This is a chance to escape, isn’t it ? .. Walk into another life..”
***
Kemiskinan ibarat lingkaran setan. Dia bisa beranak pinak dalam berbagai nama. Ibarat kutukan yang bisa diwariskan, kemiskinan telah menjerat leher warga Juhu di Mumbay.
Acara kuis “Who Wants to be Millionaire” menjadi semacam titik balik pengentasan kemiskinan. Dalam quis tersebut, harapan warga marginal di Mumbay seolah menemukan hero-nya, Jamal. Danny Boyle menggambarkannya dengan baik.
Mulai setengah hingga akhir cerita, Danny Boyle seakan hendak membuat Salim, Jamal dan Latika sebagai simbol. Latika menjadi perlambang cinta dan kebahagian, Jamal perlambang kejujuran, keuletan dan kesabaran, sementara Salim adalah lambang kesedihan, marah, dan frustasi yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Jamal.
Danny Boyle seolah ingin berkata, bahwasanya untuk memperoleh cinta dan kebahagian (Latika), kejujuran, keuletan dan kesabaran (Jamal) harus terealisasi dengan baik. Dan itu tak mudah. Ada banyak ujian (polisi yang menuduhnya curang), cobaan (trik sang pembawa acara quiz), halangan (Bos Paved) dan rintangan (Salim) sepanjang jalan tersebut.
Dan saat semua ujian, cobaan, halangan dan rintangan itu teratasi, maka kesedihan pun akan lenyap, berganti dengan datangnya kebahagiaan. Danny Boyle menghadirkan narasi ini dalam bentuk fragment drama yang bagus. Dimana kematian Salim (kesedihan yang lenyap) diiringi pertemuan Jamal dengan Latika (kebahagiaan yang datang).
Bukankah dalam kehidupan sehari-haripun ini adalah umum ditemui, kawan ? (Meminjam istilah oom @didinu : “Bagaimana Luck itu terjadi..”)
***
Selain sebagai sebuah karya kreatif yang mungkin banyak ditemui kejanggalan cerita disana-sini (seperti Salim yang terlalu tiba-tiba memutuskan akhir hidup, Latika dan Jamal yang kurang diexplore karakternya, Kissing antara Jamal dan Latika di bagian ending – yang terasa sangat dipaksakan, kemudian joget ala India yang dilakukan Latika – dibagian ending – yang terasa kaku sehingga sedikit membuat saya terasa ilfil), Slumdog penuh berisi nasihat dan bahasa perlambang. Banyak sekali bertebaran mutiara-mutiara nasihat disana sini.
Sebuah film yang bagus sekali sebagai bahan renungan, sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Kira-kira bagaimana menurut rekan-rekan ?
Catatan : Posting ini bukanlah review, untuk review silahkan baca di sini :
- Menuju Takdir Sebuah Kota
- Slumdog Millionaire – SendokGarpu.com
- Slumdog Millionaire – Exodiac.com
- Slumdog Millionaire – HotMovie
- Digebrak Slumdog Millionaire – Community Kompas
Tag :
Tags: Movie







